Rabu, 04 Juni 2014

Menyambut Bulan Suci Ramadhan


# Menyambut Bulan Suci Ramadhan #
Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta. Shalawat dan salam kepada nabi dan rasul yang paling mulia, Muhammad bin ‘Abdillah, serta kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du,

Tulisan ini ditujukan untuk semua muslim yang akan bertemu dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar dapat memanfaatkan bulan tersebut dalam ketaatan pada Allah Ta’ala. Semoga melalui tulisan ini dapat menjadi sarana untuk membangkitkan semangat di dalam jiwa seorang mu’min dalam beribadah kepada Allah di bulan yg mulia ini. Maka penulis memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan taufik dan jalan yang lurus serta menjadikan amal ini ikhlas hanya karena mengharap WajahNya Yang Mulia semata. Dan semoga Allah mencurahkan shalawat atas junjungan kita, Muhammad, dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya.

Bagaimanakah Seharusnya Kita Menyambut Ramadhan?

Pertanyaan: Apa saja cara-cara yang benar untuk menyambut bulan yang mulia ini?





Seorang muslim seharusnya tidak lalai terhadap momen-momen untuk beribadah, bahkan seharusnya ia termasuk orang yang berlomba-lomba dan bersaing (untuk mendapatkan kebaikan) didalamnya. Allah Ta’ala berfirman,
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (المطففين :(26

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berloma-lomba.”(QS. Al-Muthaffifiin:26)

Maka bersemangatlah wahai saudara-saudara muslim dalam menyambut Ramadhan dengan cara-cara yang benar sebagaimana berikut ini:

1.Berdo’a agar Allah mempertemukan dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat dan kuat, serta dalam keadaan bersemangat beribadah kepada Allah, seperti ibadah puasa, sholat dan dzikir.

Telah diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa dia berkata, adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Rajab, beliau berdoa,
اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan.”(HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

Catatan: Syaikh Al-Albani rahimahullah mendhaifkan hadits ini dalam kitab Dha’if al-Jaami‘ (4395) dan tidak mengomentarinya dalam kitabAl-Misykaah.

Demikian juga generasi terbaik terdahulu (as-salaf ash-shalih) berdoa agar Allah menyampaikan mereka pada bulan Ramadhan dan menerima amal-amal mereka.
Maka apabila telah tampak hilal bulan Ramadhan, berdoalah pada Allah:
الله أكبر اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والإسلام , والتوفيق لما تحب وترضى ربي وربك الله

“Allah Maha Besar, ya Allah terbitkanlah bulan sabit itu untuk kamidengan aman dan dalam keimanan, dengan penuh keselamatan dan dalam keislaman, dengan taufik agar kami melakukan yang disukai dan diridhai oleh Rabbku dan Rabbmu, yaitu Allah.”(HR. At-Tirmidzi dan Ad-Darimi, dishahihkan oleh Ibnu Hayyan)

2.Bersyukurpada Allah dan memuji-Nya atas dipertemukannya dengan bulan Ramadhan.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnyaAl-Adzkaar,

“Ketahuilah, dianjurkan bagi siapa saja yang mendapatkan suatu nikmat atau dihindarkan dari kemurkaan Allah, untuk bersujud syukur kepada Allah Ta’ala, atau memuji Allah (sesuai dengan apa yg telah diberikan-Nya).”
Dan sesungguhnya di antara nikmat yang paling besar dari Allah atas seorang hamba adalah taufiq untuk melaksanakan ketaatan. Selain dipertemukan dengan bulan Ramadhan, nikmat agung lainnya adalah berupa kesehatan yang baik. Maka ini pun menuntut untuk bersyukur dan memuji Allah Sang Pemberi Nikmat lagi Pemberi Keutamaan dengan nikmat tersebut. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak dan pantas bagi keagungan Wajah-Nya dan keagungan kekuasaan-Nya.

3.Bergembira dan berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan.

Telah ada contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau dahulu memberi berita gembira pada para sahabatnya dengan kedatangan Ramadhan. Beliau bersabda,
جاءكم شهر رمضانشهر رمضان شهر مبارك كتب الله عليكم صيامه فيه تفتح أبواب الجنان وتغلق فيه أبواب الجحيمالحديث

“Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan Ramadhan bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa didalamnya. Pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga serta ditutup pintu-pintu neraka….”(HR. Ahmad)

Dan sungguh demikian pula as-salaf ash-shalih dari kalangan sahabat dan tabi’in, mereka sangat perhatian dengan bulan Ramadhan dan bergembira dengan kedatangannya. Maka kebahagiaan manakah yang lebih agung dibandingkan dengan berita dekatnya bulan Ramadhan, moment untuk melakukan kebaikan serta diturunkannya rahmat?
4.Bertekad serta membuat program agar memperoleh kebaikan yang banyak di bulan Ramadhan.

Kebanyakan dari manusia, bahkan dari kalangan yang berkomitmen untuk agama ini (beragama Islam), membuat program yang sangat serius untuk urusan dunia mereka, akan tetapi sangat sedikit dari mereka yang membuat program sedemikian bagusnya untuk urusan akhirat. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran terhadap tugas seorang mu’min dalam hidup ini, dan lupa atau bahkan melupakan bahwa seorang muslim memiliki kesempatan yang banyak untuk dekat dengan Allah untuk mendidik jiwanya sehingga ia bisa lebih kokoh dalam ibadah.

Di antara program akhirat adalah program menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan ketaatan dan ibadah. Seharusnya seorang muslim membuat rencana-rencana amal yang akan dikerjakan pada siang dan malam Ramadhan. Dan tulisan yang anda baca ini, membantu anda untuk meraih pahala Ramadhan melalui ketaatan pada-Nya, dengan ijin Allah Ta’ala.

5. Bertekad dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh pahala di bulan Ramadhan serta menyusun waktunya (membuat jadwal) untuk beramal shalih.

Barangsiapa yang menepati janjinya pada Allah maka Allah pun akan menepati janji-Nya serta menolongnya untuk taat dan memudahkan baginya jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْراً لَهُمْ (محمد : 21)

“Maka seandainya mereka benar-benar beriman pada Allah, maka sungguh itu lebih baik bagi mereka.”(QS. Muhammad:21)

6.Berbekal ilmu dan pemahaman terhadap hukum-hukum di bulan Ramadhan.

Wajib atas seorang yang beriman untuk beribadah kepada Allah dilandasi dengan ilmu, dan tidak ada alasan untuk tidak mengetahui kewajiban-kewajiban yang diwajibkan Allah atas hamba-hamba-Nya. Di antara kewajiban itu adalah puasa di bulan Ramadhan. Sudah sepantasnya bagi seorang muslim belajar untuk mengetahui perkara-perkara puasa serta hukum-hukumnya sebelum ia melaksanakannya (sebelum datang bulan Ramadhan), agar puasanya sah dan diterima Allah Ta’ala.
فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَالأنبياء :7)

“Maka bertanyalah pada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.”(QS. Al-Anbiya’:7)

7. Wajib pula bertekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kejelekan, serta bertaubat dengan sungguh-sungguh dari seluruh dosa, berhenti melakukannya serta tidak mengulanginya lagi.
Karena bulan Ramadhan adalah bulan taubat. Barangsiapa yang tidak bertaubat di dalamnya, maka kapankah lagi ia akan bertaubat? Allah Ta’ala berfirman,
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ النور : 31)

“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.”(QS. An-Nur: 31)

8. Mempersiapkan jasmani dan rohani dengan membaca dan menelaah buku-buku serta tulisan-tulisan, serta mendengarkan ceramah-ceramah islamiyah yang menjelaskan tentang puasa dan hukum-hukumnya, agar jiwa siap untuk melaksanakan ketaatan di bulan Ramadhan.

Demikian pulalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersiapkan jiwa-jiwa para sahabat untuk memanfaatkan bulan ini. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam sempat bersabda pada akhir bulan Sya’ban,
جاءكم شهر رمضان … إلخ الحديث

“Telah datang pada kalian bulan Ramadhan…(sampai akhir hadits).”(HR. Ahmad dan An-Nasa’i).[1]

9. Mempersiapkan dengan baik untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala di bulan Ramadhan, melalui:

Menghadiri pertemuan-pertemuan serta bimbingan-bimbingan dan menyimaknya dengan baik agar dapat disampaikan di masjid di daerah tempat tinggal.
Menyebarkan buku-buku kecil, tulisan-tulisan serta nasehat-nasehat tentang hukum yang berkaitan dengan Ramadhan kepada orang-orang yang shalat serta masyarakat sekitar.
Menyiapkan “hadiah Ramadhan” sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Hadiah tersebut dapat berupa paket yang didalamnya terdapat kaset-kaset dan buku kecil, yang kemudian pada paket tersebut dituliskan “hadiah Ramadhan”.
Memuliakan fakir dan miskin dengan memberi sedekah serta zakat untuk mereka.

10. Menyambut Ramadhan dengan membuka lembaran putih yang baru, yang akan diisi dengan:

Taubat sebenar-benarnya kepada AllahTa’ala.
Ta’at pada perintah Rasulshallallahu ‘alaihi wa sallam serta meninggalkan apa yang dilarangnya.
Berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, saudara, istri atau suami serta anak-anak.
Berbuat baik kepada masyarakat sekitar agar menjadi hamba yang shalih serta bermanfaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أفضل الناس أنفعهم للناس

“Seutama-utama manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”[2]

Demikianlah seharusnya seorang muslim menyambut Ramadhan, seperti tanah kering yang menyambut hujan, seperti si sakit yang membutuhkan dokter untuk mengobatinya dan seperti seseorang yang menanti kekasihnya.

“Ya Allah pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan dan terimalah amalan kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Khalid bin ‘Abdirrahman ad-Durwaisy

Sumber: http: //muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/menyambut-bulan-suci-ramadhan.html


[1] Hal ini disebutkan dalam Lathoif Al Ma’arif (kitab karya Ibnu Rajab Al-Hambali-ed).
[2] Dalam lafadz lain disebutkan,
أحب الناس إلى الله أنفعهم للناس

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(Hadits shahih dishahihkan Syaikh Al-Bani dalamAl-Hadits Ash-ShahihahNo.906 -red)

Penerjemah: Ummu Ahmad Juwita Laila Ramadhan
Murojaah: Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www .muslimah.or.id

Secuil Renungan di Bulan Suci Ramadhan


 By: Ririn AR.

Ririn AR._Ini tentang perjalanan sebuah rangkaian kehidupan. Tidak ada yang mampu mengetahui seperti apakah rangkaian itu dan bagaimanakah laju perjalananya. Manusia hanyalah makhluk yang terlibat di dalamnya dan hanya bisa memilih untuk menjalaninya. Seperti halnya manusia percaya akan takdir yang sudah digariskan Yang Kuasa. Kelahiran seorang manusia hingga tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa lalu kemudian pada akhirnya ia akan mati karena menemui ajalnya. Semua proses tersebut adalah takdir dan sudah umum diketahui semua manusia di berbagai belahan dunia dengan latar belakang dan kepercayaan masing-masing.

Dan sebagai umat muslim kita harus meyakini bahwa perjalanan hidup tidak hanya berhenti sampai pada ajal menjemput. Karena yang sesungguhnya kehidupan yang sejati yang sebenarnya adalah setelah ajal tersebut. Manusia yang telah meninggalkan raga kasarnya akan memulai menempuh kehidupan yang kekal tanpa batas. Kehidupan manusia dengan raga kasarnya hanya semata untuk mencari bekal di kehidupan yang kekal dan abadi, itulah yang umat Islam yakini. Letak kebahagiaan seseorang baru akan benar-benar muncul ketika dia membawa bekal kebaikan dan iman yg cukup untuk meninggalkan raga kasarnya. 

Banyak sekali pepatah yang mengatakan tentang kehidupan yang fana yang semu bak panggung sandiwara. Lalu apakah kita pantas membanggakan segala kefanaan yg ada menyelimuti kita menghiasi diri kita yg fana. Apalah arti sosok kefanaan ini di depan Sang Ilahi Rabbi, sedangkan sosok yg fana ini yang selalu mandi berlumurkan dosa di setiap detik kehidupannya. Sosok fana yang hanya berambisi meraih kekuasaan dunia dengan segala kemewaahannya yang fana. Sosok ini benar-benar tidak tau diri, mereka selalu menangis dan bersimpuh kepada Tuhannya meminta kemakmuran hidupnya karena mereka termat takut dengan kemiskinan, tapi setelah mereka mendapatkan segala yang mereka minta, mereka hanya berdiam menikmati kemewahan yang fana yang mereka anggap sebagai kunci kebahagiaan mereka. Tanpa mereka menyadarinya bahwa Allah Maha Adil. Sekalipun dunia belum menghakiminya, akan datang masa penghakiman untuk mereka dan mereka akan menuai semua atas segala yang mereka tanamkan selama hidup di dunia. Dan sesungguhnya Allah lah Tuhan mereka yang Maha Pengasih dan Penyayang telah berulang kali memperingatkan untuk memilih jalan  yang membahagiakan mereka sosok yang fana untuk meraih kekekalan kebahagiaan di alam yg abadi tanpa kefanaan. Namun, mereka sering kali mengabaikannya. Sungguh kasihan mereka yang terus tersesat oleh kefanaan dunia yang akan mengantarkan mereka pada penderitaan yang kekal dan abadi. Berapa banyak kita melakukan kemaksiatan tapi kita merasa bahwa Allah tidak menghukum kita. Maka dari itu sudah selayaknya kita mewaspadai akan hukuman tanpa sadar, yaitu ketika Allah telah menghukum kita tanpa kita menyadarinya, yaitu kita tidak lagi merasakan kelezatan beribadah dan bermunajat denganNya. 
Astaghfirullahal'adhim, Ighfirdhunubana ya Allah...
Mudah-mudahan kita tidak tersesat pada yang demikian itu,amiin.

#salam ukhwah admin

Sekolah Berbasis Multiple Intelligences


Cara yang seragam dalam mengajar dan menguji jelas tidak memuaskan karena setiap orang itu sangat berbeda. (Howard Gardner)
Jika kita berkunjung ke Kota Gresik, Jawa Timur, tepatnya di Jalan Jaksa Agung Suprapto 76, kita akan menemukan sekolahan unik yang bernama SMP YIMI Gresik “Full Day School.” Pada awalnya, sekolah ini menempati urutan terbawah dalam haltrust masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut (Chatib, 2009:4). Tetapi kemudian sekolah ini melakukan perubahan mendasar yang mungkin saja terlalu berani, yakni menerapkan Multiple Intelligences System (MIS). Dan, sekarang sekolah ini telah dilirik banyak pihak dan mampu menunjukkan keunikan dan keberhasilannya dibanding sekolah lain yang lebih dulu mapan kondisinya. Apa rahasianya?
SMP YIMI Gresik “Full Day School” ini merupakan sekolah yang mengedepankan proses pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan untuk semua kondisi (the best process), sekolah yang berperan sebagai agen pengubah kondisi siswanya dari kondisi negatif menjadi kondisi positif (agen of change), gurunya sebagai fasilitator dan katalisator, mengajar dengan menyesuaikan gaya belajar siswa dan selalu memantik rasa ingin tahu siswa (the best teacher), dan sekolah yang mempunyai paradigma setiap siswa mempunyai kecenderungan kecerdasan yang beragam, sehingga semua siswa adalah bintang, semua siswa adalah juara dengan cara yang berbeda-beda (multiple intelligences research).
Munif Chatib –penulis buku Sekolahnya Manusia- berpendapat bahwa “Keberhasilan pendidikan Indonesia secara makro sangat ditentukan oleh jutaan institusi mikro yang bernama sekolah”. Dengan kata lain sekolah merupakan ”jantung” kehidupan. Baik buruknya seseorang, keluarga, masyarakat, dan negara diprediksi –salah satunya- merupakan hasil dari proses pendidikan (baca: pembelajaran) di sekolah. Pendidikan menjadi salah satu modal bagi seseorang agar dapat berhasil dan mampu meraih kesuksesan dalam kehidupannya (Susanto, 2005:67). Salah satu ikhtiar untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan adalah dengan meningkatkan kualitas belajar bagi setiap siswa.
Tidak sedikit kita jumpai, pendidikan (baca: sekolah) yang masih menganggap siswa bagaikan kertas kosong yang bebas untuk ditulisi apa saja semua gurunya. Bahkan, hal ini kebanyakan dilakukan sekolah-sekolah yang nota bene “dianggap” unggul oleh sebagian kalangan. Sekolah unggul inilah yang akan mencetak siswa menjadi “seragam”, yang ujung-ujungnya ketika di akhir tahun pelajaran dapat lulus ujian nasional. Dalam gaya belajar tradisional di ruang kelas, siswa mendengarkan penjelasan guru, lalu mengerjakan soal atau menulis ulang materi pelajaran. Bagi sebagian anak, hal ini tidak bermasalah. Namun, banyak anak yang merasakan hal ini terlalu berat, membosankan, atau bahkan justru membingungkan. Haruskah metode ini dipertahankan terus?
Multiple Intelligences
Adalah Gardner (1983) mengenalkan Teori Multiple Intelligences yang menyatakan bahwa kecerdasan meliputi sembilan kecerdasan. Yaitu linguistik, matematis, visual, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, naturalis, dan eksistensial. Teori tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa kemampuan intelektual yang diukur melalui tes IQ sangatlah terbatas, karena tes IQ hanya menekan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Padahal setiap orang mempunyai cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai yang diperoleh seseorang. Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain.
Dengan menerapkan multiple intelligences, maka aktivitas mengajar adalah ibarat air yang mengisi ruang-ruang murid. Ketika murid diibaratkan bagaikan botol, maka seorang pendidik dituntut untuk mampu menyesuaikan seperti botol; dan ketika murid ibarat seperti gelas, maka seorang pendidik juga dituntut dapat mengikuti seperti gelas. Artinya dengan bekal multiple intelligences, aktivitas mengajar harus sesuai (baca: disesuaikan) dengan gaya belajar setiap individu murid. (Chatib, 2009:50). Mengembangkan multiple intelligences siswa merupakan kunci utama untuk kesuksesan masa depan siswa. Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari masing-masing individu, maka seorang pendidik/orangtua diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih gaya mengajar yang sesuai dengan gaya belajar siswa.
Pembelajaran berbasis multiple intelligences secara umum dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang memberi “ruang gerak” bagi setiap individu siswa untuk mengembangkan potensi kecerdasannya. Siswa dituntut agar dapat belajar secara enjoi, tidak merasa terpaksa, dan memiliki motivasi yang tinggi. Pada hakikatnya, pembelajaran berbasis multiple intelligences dapat juga dimaknai sebagai pembelajaran yang membiarkan anak didik untuk selalu kreatif. Tentunya, kreativitas yang dibangun adalah bentuk ke-kreatif-an yang dapat mendukung terhadap keberlangsungan proses pembelajaran dengan menghasilkan target prestasi akademik yang membanggakan.
Melihat konsep multiple intelligences yang sangat benar-benar manusiawi tersebut, maka sangat diharapkan akan hadirnya sekolah-sekolah lain yang dapat menerapkan Multiple Intelligences System (MIS) di lembaga masing-masing, seperti halnya yang telah berhasil diterapkan oleh SMP YIMI Gresik “Full Day School. Semoga saja! [ahf]

STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCE


STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCE
Oleh Ririn Ayu Rizki

A.   Pendahuluan

Pendidikan adalah sebuah proses memberikan lingkungan agar peserta didik dapat berinteraksi dengan lingkungan untuk mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya. Kemampuan tersebut dapat berupa kemampuan kognitif yakni mengasah pengetahuan, kemampuan afektif mengasah kepekaan perasaan, dan kemampuan psikomotorik yakni keterampilan melakukan sesuatu. Dengan tiga kemampuan ini menurut Binyamin S.Bloom (1956) seorang peserta didik diharapkan dapat dilepas menjadi individu yang siap memasuki dunia di luar sekolah.


Akan tetapi kenyataan yang terjadi kini, kemampuan seseorang di luar sekolah sangat kompleks. Kemampuan kemampuan tersebut disamping kemampuan yang ada pada dirinya secara internal juga kemampuan yang ada di luar dirinya secara eksternal. Sebagai contoh kemampuan seorang individu untuk melakukan kerjasama dengan orang lain berpartisipasi dalam satu kelompok kini menjadi bagian penting bila individu ingin sukses meraih apa yang ia inginkan. Ini artinya bahwa kemampuan kemampuan yang dibatasi selama ini sudah saatnya dirubah dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan dunia luar sekolah.

Dalam hal mengakomodir berbagai kemampuan pada seorang peserta didik, kemampuan ganda atau multiple intelligence adalah satu bagian penting yang harus diperkenalkan. Artinya peserta didik sejak dini sudah harus diberi wawasan, kegiatan, orientasi yang merupakan bentuk lingkungan agar mereka dapat mengembangkan diri sesuai dengan nilai nilai yang ada di luar sekolah. Ini maksudnya adalah memperkenalkan mutiple intelligence dalam kegiatan pembelajaran harus dilakukan, dan tentunya memerlukan satu pembahasan yang baik.  Pembahasan dimaksudkan untuk memberikan satu penjelasan, dimana multiple intelligence adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran siswa di kelas, di luar kelas yang secara keseluruhan adalah bagian dari tanggungjawab guru.

B.   Teori Teori Intelligence

     Inteligensi terkait erat dengan tingkat kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik itu kemampuan secara fisik maupun non fisik. Banyak hal yang telah diteliti orang tentang kemampuan ini, sehingga melahirkan rumus tetang bagaimana mengukur tingkat inteligensi seseorang. Uraian tentang inteligensi akan dijabarkan dalam dua pokok bahasan yakni; pengertian intelegensi dan tingkahlaku inteligensi.
1.    Arti Intelgensi
Banyak defenisi yang dikemukakan para ahli tentang inteligensi, kadangkala pengertian pengertian yang mereka bangun berdasarkan hasil penelitian atau pendekatan yang dilakukan. Menurut William Stern inteligensi adalah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru dengan menggunakan alat alat berfikir yang sesuai dengan tujuan. (Agus Sujanto;1986,66).
Sementara itu penelitian yang berkenaan dengan inteligensi dilakukan oleh para ahli selalu dikaitkan dengan masalah masalah konsep tentang berbagai hal yang menyangkut perilaku kemampuan berfikir seseorang. Banyaknya lahir konsep tentang inteligensi ini digolongkan menjadi lima golongan yakni:
a.    Konsepsi konsepsi yang bersifat spekulatif
b.    Konsepsi konsepsi yang bersifat pragmatis
c.    Konsepsi konsepsi yang didasarkan atas analisis faktor yang kiranya dapat kita sebut konsepsi konsepsi faktor
d.    Konsepsi konsepsi yang bersifat operasional, dan
e.    Konsepsi konsepsi yang didasarkan atas analisis fungsional, yang kiranya dapat kita sebut konsepsi fungsional. (Sumadi Suyabrata:1989,128)
Dalam pada itu konsepsi tentang inteligensi ini berkembang terus sehingga banyak mendapat dan dalili dalil yang menjadi temuan dan pedoman bagi para ahli untuk mengembangkannya lebih jauh.
Sebagai pembahasan perbincangan tentang inteligensi harus didasarkan pada empat hal pokok yakni:
a.    Bahwa inteligensi itu ialah faktor  total. Berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan di dalamnya (ingatan, fantasi, perasaan, perhatian, minat, dan sebagainya untuk mempengaruhi inteligensi seseorang).
b.    Bahwa manusia hanya dapat mengetahui inteligensi dari tingkah laku atau perbuatannya yang tampak. Inteligensi hanya dapat kita ketahui dengan cara tidak langsung, melalui “kelakuan inteligensinya”.
c.    Bahwa bagi suatu perbuatan inteligensi bukan hanya kemampuan yang dibawa lahir saja yang penting. Faktor faktor lingkungan dan pendidikanpun memegang peranan.
d.    Bahwa manusia dalam kehidupannya senantiasa dapat menentukan tujuan tujuan yang baru, dapat memikirkan dan menggunakan cara cara untuk mewujudkan dan mencapai tujuan itu/ (M.Ngalim Purwanto:1987,53).
Perkembangan dan pertumbuhan inteligensi dalam diri seseorang berirama sesuai dengan gejala pertumbuhan dan perkembangan yang ia alami. Namun demikian terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi inteligensi ini yakni:
a.    Perbawaan, ialah gejala kesanggupan kita yang telah kita bawa sejak lahir, dan yang tidak sama pada setiap orang.
b.    Kemasakan, ialah saat munculnya sesuatu daya jiwa kita yang kemudian berkembangan dan mencapai saat puncaknya.
c.    Pembentukan, ialah segala faktor luar yang mempengaruhi inteligensi dimasa perkembangannya dan,
d.    Minat, inilah yang merupakan motor penggerak dari inteligensi kita. (Agus Sujanto:1985,66).
Tentunya pengertian dan pembatasan inteligensi tidak  berhenti sampai disini, para ahli terus berusaha menyempurnakan sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman dan perobahan yang ada pada struktur aturan kegiatan keilmuan itu sendiri.

2.    Perkembangan dan Pengukuran Inteligensi
Kemampuan yang dapat diperoleh dari inteligensi ini adalah dapat diketahui dengan cara menggunakan tes inteligensi. Tes ini dirancang sedemikian rupa sehingga menyerupai satu paket alat ukur terpadu untuk melihat tingkat kemampuan yang ada pada diri seorang individu.

Sejak awal disadari bahwa tes untuk mengukur kemampuan inteligensi seseorang adalah tidak ada yang sempurna sama sekali. Dalam hal ini diketahui bahwa ebilitas mental yang sangat kompleks menjadikan pengukuran hanya sebatas disusun, dibentuk dan dilengkapi. Untuk itulah maka ditegaskan sekali lagi bahwa; macam macam test ebilitas mental. Tes inteligensi dapat diklasifikasikan menjadi:(a) Individual atau kelompok, (b) Bahasa atau verbal, bukan bahasa atau non verbal atau perbuatan, dan (c) Mudah atau lebih sukar, disesuaikan dengan umur atau tingkat tingkat sekolah. (Lester D.Crow:1984,228).

Beberapa ahli yang telah merancang dan mengembangkan tes ukur inteligensi ini sampai kini sebagian darinya tetap digunakan oleh pada pendidik, namun sebagian ditinggalkan. Beberapa model tes yang pernah dikembangkan tersebut adalah:
1.    Tes Wechsler
Tes inteligensi ini adalah dibuat oleh Wachsler Bellevue pada tahun 1939 terdiri dari dua macam yakni; untuk umur 16 tahun keatas disebut dengan Adult Inteligence Scale (WAIS) dan tes untuk anak anak yaitu Wechslr Intelegence Scale for Children (WISC).
Tes yang dikembangkan ini meliputi dua sub yaitu verbal dan performance (tes lisan dan perbuatan atau keterampilan). Tes lisan meliputi pengetahuan umum, pemahaman, ingatan, menari kesamaan, hitungan dan bahasa. Sedangkan tes keterampilan kegiatan seperti;menyusun gambar, melengkapi gambar, menyusun balok balok kecil, menyusun bentuk gambar dan sandi (kode angka angka).
2.    Tes Progressive Matrices
Tes inteligensi ini diciptakan oleh L.S. Penrose dan J. C. Lave dari Inggris pada tahun 1938. dimana dengan tes ini dapat diberikan secara kelompok orang sekaligus untuk diukur atau diketahui tingkai inteligensinya.
3.    Tes Army Alpha dan Beta
Tes inteligensi yang ini digunakan untuk mentes calon calon tentara di Amerika Serikat. Dimana tes army alpha khusus untuk calon tentara yang pandai membaca sedang army beta untuk calon yang tidak pandai membaca. Tes ini diciptakan awalnya untuk memenuhi keperluan yang mendesak dengan menseleksi calon tentara waktu perang dunia II.
4.    Tes Binet-Simon
Tes inteligensi ini adalah tes psikologi yang pertama sekali diciptakan oleh Alfred Binet dan Theodore Simon pada tahun 1908 di Perancis. Awalnya tes ini dipersiapkan untuk mengukur tingkat kemampuan inteligensi anak anak, namun dalam perkembangannya mendapat sambutan yang baik, sehimngga disempurnakan menjadi lebih lengkap kemudian dapat digunakan untuk orang dewasa.
Beberapa ahli yang sempat merevisi dan menyempurnakan tes Binet-Simon ini adalah (a) Kuhman tahun 1912 dan 1922, (b) Lewis Terman dan Stanfor University tahun 1916, (c) Mordan tahun 1932, dan (d) David Merril tahun 1937. (Ahmad Mudzakir:1997,140).
Dalam pada itu suatu konsepsi yang orisinal, yang kemudian ternyata sangat berguna dan sangat baik diikuri orang lain ialah konsepsi tetang adanya umur yang dua macam yaitu: (a) Umur kalender atau umur kronologis (Cronological age yang biasa disingkat dengan CA), dan (b) Umur kecerdasan atau umur inteligensi (mental age, yang biasa disingkat dengan MA). (Sumadi Suryabrata:1989,154).

C.   Multiple Intelligene

Goelman mengemukakan, bahwa kehidupan mental manusia dibentuk dari duapikiran yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional yang bekerja dalam keselarasan yang erat, dan saling melengkapi. (Goleman, 2001,11-12). Kecerdasan pikiran rasional diukur dengan IQ (intelligence Question). Test IQ digunakan sebagai dasar meramalkan kemampuan bidang karir akademik.

Selama ini IQ diyakini sebagai satu satunya faktor yang menentukan kesuksesan seseorang. Penyelidikan ilmiah pertama yang pernah dilakukan membandingkan kecerdasan emosional (emotional intelligence) dengan cognitive inteligence (IQ), dilakukan dengan cara mengukur prestasi kerja menggunakan Baron Emotional Questient Inventory  (EQ-i). Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa cognitive intelligence (IQ) mempengaruhi sekitar 1% performance kerja aktual. EI (emotional intelligence) mempengaruhi sebesar 27 % dan 72 % lainnya dipengaruhi oleh hal hal lain. (Multi-Health Systems Inc, 1998,2-3). Stein dan Book menyatakan bahwa IQ dapat digunakan untuk mempekirakan sekitar 1-20 % (rata-rata 6 %) keberhasilan dalam pekerjaan tertentu. EQ di sisi lain ternyata berperan sebesar 27-45 %, dan berperan langsung dalam keberhasilan pekerjaan tergantung pada jenis pekerjaan yang diteliti. (Stein dan Book, 2000,34).

Pandangan terhadap kegandaan (multiple) kecerdasan dipelopori oleh Gardner. Siapa sebenarnya Gadner itu? Dalam sebuah tulisan di Ensyclopedia Encarta disebutkan; American psychologist Howard Gardner originated the theory of multiple intelligences. Gardner’s theory sought to broaden the range of human abilities that should be considered aspects of intelligence.Woodfin Camp and Associates, Inc./Paula Lerner © 1993-2003 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Gadner seorang tokoh muda dalam biang psikologi di Amerika telah memberikan banyak sumbangan terhadap psikologi khususnya tentang pengukuran psikologi anak. Hal ini tanpak sebagaimana ditulis oleh beberapa ahli tentang perkembangan pemikiran yang menyangkut tentang intelligence seperti kutipan berikut:
Gardner’s theory found rapid acceptance among educators because it suggests a wider goal than traditional education has adopted. Critics of the multiple intelligences theory have several objections. First, they argue that Gardner based his ideas more on reasoning and intuition than on empirical studies. They note that there are no tests available to identify or measure the specific intelligences and that the theory largely ignores decades of research that show a tendency for different abilities to correlate—evidence of a general intelligence factor. In addition, critics argue that some of the intelligences Gardner identified, such as musical intelligence and bodily-kinesthetic intelligence, should be regarded simply as talents because they are not usually required to adapt to life demands. © 1993-2003 Microsoft Corporation. All rights reserved

Kutipan di atas, cukup memberikan informasi bahwa berbagai teori tentang pengukuran inteligensi selama ini banyak memiliki kelemahan disatu sisi, sementara anatomi manusia semakin kompleks. Dibutuhkan berbagai pendekatan untuk melihat dasar kemampuan, bakat dan kemauan serta stabilitas seseorang, untuk itulah Gadner mencoba memberikan tawaran bagaimana pengukuran kemampuan manusia secara lebih lengkap.

Gardner yang terkenal dengan multiple intelligence tidak memandang kecerdasan manusia sema berdasar secor tes standar, tetapi meliputi tujuh macam kecerdasan manusia yaitu: (1) Linguistik intelligence (kecerdasan lnguistik); (2) Logical-mathematical intelligence (kecerdasan logika-matematika); (3) Spatial intelligence (kecerdasan spasial berpikir dalam tiga dimensi); (4) Bodily-kinesthetic intelligence (kecerdasan kinestetik-tubuh); (5) Musical intelligence (kecerdasan musik); (6) Interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal); dan (7) Intrapersonal intelligence (kecerdasan intrapersonal) (Campbell, Campbell dan Dickinson, 2002,2-3). Pemikiran Gardner tentang multiple intelligence mengenai kecerdasan inerpersonal di atas ditempatkan oleh Salovey dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional. (Goleman, 2001,57-59).
Ketujuh kecerdasan ini, kini banyak dikembangkan baik dalam pendidikan maupun pelatihan, serta pengembangan sumber daya manusia. Bagaimana sebenarnya pengembangan ketujuh kecerdasan terkait dengan pilihan profesi yang dapat diberikan pada kegiatan pembelajaran, hal ini dapat dilihat sebagaimana uraian tabel berikut dibawah ini.

Tabel Pengembangan Multiple Intelligence

No

Kecerdasan

Pengertian

Aktualisasi

1

Linguistic intelligence (kecerdasan lingkuistik)

Kemampuan dalam bentuk berfikir tentang kata kata, menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks.

Novelis, pengarang, penyair, jurnalis, pembicara, penyiar berita

2

Logical-mathematical intelligence (kecerdasan logika-matematika)

Kemampuan dalam menghitung, mengukur, mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta menyelesaikan masalah operasi matematis.

Ilmuwan, ahli matematika, akuntan, insiyur, programing komputer

3

Spatial intelligence (kecerdasan spasial berpikir dalam tiga dimensi)

Kemampuan berpikir dalam tiga dimensi yakni; membayangkan keadaan internal dan eksternal, melukiskan kembali, merubah atau memodifikasi bayangan, mengemudiakan diri sendiri dan obyek melalui ruangan dan menghasilkan menguraikan informasi grafis

Pilot, pelaut, pemahat, pelukis dan arsitek

4

Bodily-kinesthetic intelligence (kecerdasan kinestetik-tubuh)

Adalah kemampuan menggerakan obyek dan keterampilan ketrampilan fisik yang halus.

Atlet, penari, ahli bedah dan seniman.

5

Musical intelligence (kecerdasan musik)

Adalah kemampuan dalam sensitivitas pada pola titinada, melodi, ritme dan nada.

Komposer, konduktor, musisi, kritikus, pembuat alat musik, dan pendengar musik



6

Interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal)

Adalah kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif

Guru, pekerja sosial, artis atau politisi yang sukses.

7

Intrapersonal intelligence (kecerdasan intrapersonal)

Adalah kemampuan untuk membua persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semaca itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang.

Agamawan, ahli psikologi dan ahli filsafat.

Diadaptasi dari Gardner 1983.


          Namun demikian Lazear (1998) selangkah lebih maju dimana ia menemukan kecerdasan jamak dengan istilah “8 ways of knowing”. Kedelapan tersebut meliputi: (a) kecerdasan verbal/linguistik, (b) kecerdasan logika matematika, (c) kecerdasan intrapersonal, (d) kecerdasan interpersonal, (e), kecerdasan naturalis, (f) kecerdasan tubuh kinestetik, (g) kecerdasan musik irama, dan (h) kecerdasan visual spaial. Dengan demikian hampir tidak berhenti para ahli untuk meneliti dan mengembangkan kecerdasan manusia. Oleh sebab itu benar bila dikatakan bahwa multiple intelligence atau intelligensi jamak merupakan perkembangan mutakhir dalam bidang intelligensi menjelaskan hal hal yang berkaitan dengan jalur jalur yang digunakan oleh manusia untuk menjadi jerdas. (Jamaris,2002:74).

D.   Penerapan Multiple Intelligence dalam Pembelajaran

Memperkenalkan multiple intelligence dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dalam tiga bentuk utama yakni; orientasi kurikulum, metodologi pengembangan pembelajaran, dan evaluasi hasil pembelajaran.
1.    Orientasi Kurikulum
Kompentensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.
Dasar pemikiran untuk menggunakan konsep multiple intelligencei dalam kurikulum adalah sebagai berikut:
1)    Multiple intelligence berkenaan dengan kemampuan peserta didik dalam melakukan sesuatu dalam berbagai konteks.
2)    Multiple intelligence menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui peserta didik untuk menjadi standart kompentensi.
3)    Multiple intelligence merupakan hasil belajar (leraning outcomes)yang menjelaskan hal-hal yang dilakukan peserta didik setelah melalui proses pembelajaran.
4)    Kehandalan kemampuan peserta didik melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur.
5)    Penyusunan standart kompetensi, kompetensi dan hasil belajar hendaknya didasarkan pada kecerdasan jamak yang ditetapkan secara proporsional, tidak melulu hanya apsek kognitif atau spritual belaka tetapi seimbang dan tepat sasaran.
2.    Pengembangan Metodologi Pembelajaran
1)    Metode bercerita, adalah salah satu bentuk untuk mengembangkan intelligence lingusitic, dimana siswa diajak menyenangi dan mencintai bahasa, dimana siswa dapat menikmati suara dari kata kata, menghargai dan memakai kekuatan dengan penuh tanggungjawab.
2)    Problem solving: Siswa dihadapkan pada masalah konkret. Misalnya adanya perkelahian antar pelajar, sering terlabat sekolah, prestasi kelas merosot, komunikasi dengan guru kurang lancar. Siswa diajak untuk memikirkan bersama, mendiskusikan bersama, dan memecahkan masalah secara bersama-sama. Metode ini dapat mengasah kecerdasan interpersonal
3)    Reflective thinking/critical thinking, siswa secara pribaddi atau berkelompok dihadapkan pada suatu artikel, peristiwa, kasus, gambar, foto, dan lain sebagainya. Siswa diajak untuk membuat catatan refleksi atau tanggapan bahan-bahan tersebut. Bahan-bahan bisa diplih sendiri oleh siswa. Cara ini dapat mengembangkan kecerdasan bodily kenisthetic, juga inteersonal intligence.
4)    Group dynamic, siswa dibimbing untuk kerja kelompok secara kontinyu dalam mengerjakan suatu proyek tertentu. Metode ini dapat diterapkan untuk mengembangkan kecerdasan logical mathematical, dan kecerdasan interpersonal.
5)    Community bulding, siswa satu kelas diajak untuk membangun komunitas atau masyarakat mini dengan aturan, tugas, hak, dan kewajiban yang mereka atur sendiri secara demokratis. Cara ini dapat dikembangkan untuk membangun kecerdasan intrapersonal.
6)    Responsibility building, siswa diberi tugas yang konkret dan diminta membuat laporan pertanggungjawaban secara jujur. Cara ini juga dapat dikembangkan untuk membangun kecerdasan intapersonal.
7)    Picnic, siswa merancang kegiatan santai di luar sekolah, tidak harus ke tempat jauh dan biaya mahal. Untuk menggali nilai-nilai social, spritual, keindahan, dsb. Ini adalah cara yang tepat untuk mengembangkan kecerdasan spatial, dan kecerdasan musical.
8)    Camping study, siswa di ajak melakukan kegiatan kamping dalam rangka belajar. Kegiatan ini juga tidak harus jauh, bisa di halaman sekolah. Seperti hal di atas, ini dapat diterapkan guru untuk membangun kecerdasan spatial, juga intrapersonal.
9)    Kerja individu dan kelompok, proses pembelajaran pada intinya adalah pemberian layanan kepada setiap individu siswa agar mereka berkembang segara maksimal sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Pelayanan secara individual bukan berarti mengajari anak satu persatu secara bergantian, melainkan dengan memberikan peluang sebesar-besarnya kepada setiap individu untuk memperoleh pengalaman belajar sebanyak-banyaknya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengaktifkan siswa baik secara individu maupun beregu. Satu dari cara yang paling biasa untuk mendorong kerja-regu adalah meminta siswa-siswa untuk bekerja dalam suatu regu atau kelompok untuk mencari jawaban-jawaban pada pertanyaan-pertanyaan, untuk memecahkan suatu masalah, untuk melaksanakan suatu eksperimen atau meneliti suatu topik proyek. Namun, guru harus berhati-hati agar harapan akan kerjasama, toleransi, semangat regu dan pengertian tentang hakikat pekerjaan hendaklah realistis mengingat ketrampilan dan pengalaman siswa-siswa. Cara cara seperti di atas dapat dikembangkan oleh guru untuk membangun kecerdasan siswa dalam bidang interpersonal, juga kecerdasan bodlily kinesthetic.
10) Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental, banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAKEM’. Cara seperti ini dapat mengembangkan berbagai kecerdasan seperti kecerdasan lingustic, kecerdasan bodily kinethetic, dan bahkan kecerdasan interpersonal.
11) Pertanyaan efektif, jika siswa diminta untuk mengerti dan bukan sekedar mengingat informasi yang ditemukannya di dalam buku pelajaran, bahan rujukan, surat kabar dan sebagainya, maka mereka haruslah aktif mengumpulkan informasi. Pengajuan suatu pertanyaan menggunakan kata-kata dan ungkapan yang tidak mudah ditemukan di dalam teks atau naskah. Sehingga mendorong siswa berpikir dan berpendaat tidak hanya  untuk menyalin jawaban. Ketrampilan ini sangat tepat bila digunakan guru untuk mengasah kecerdasan linguistic.
12) Membandingkan dan mensintesiskan informasi, Pemahaman informasi yang dikumpulkan dari sumberdaya dapat ditingkatkan jika siswa-siswa bekerja dalam kelompok dan setiap anggota kelompok diberi sumber data yang berbeda untuk digunakan dalam mencari jawaban atas pertanyaan yang sama. Dengan demikian, siswa-siswa harus membandingkan dan mendiskusikan jawaban-jawaban yang sudah mereka tuliskan, sehingga, sebagai hasilnya, mereka akan mampu memberi satu jawaban yang memuaskan. Ini sering merupakan strategi yang efektif untuk dipakai oleh kelompok-kelompok pakar ketika pendekatan (jigsaw) terhadap proyek penelitian digunakan. Cara ini juga dapat dikembangkan untuk melatih anak dalam hal kecerdasan linguistic dan juga kecerdasan logical mathematical.
13) Mengamati (mengawasi) aktif, Sering siswa-siswa tidak berpikir dan belajar aktif pada waktu menonton video. Beberapa orang guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa-siswa untuk dijawab pada waktu mereka menonton video. Biasanya pertanyaan-pertanyaan itu disajikan dengan susunan dimana jawaban-jawaban akan muncul didalam video dan ungkapan-ungkapan kunci didalam pertanyaan-pertanyaan juga terjadi didalam video, sehingga menunjuk pada jawaban. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mudah dijawab dan jarang menuntut keterlibatan aktif. Cara ini dapat digunakan guru untuk melatih anak mengemangkan kecerdasan linguistic, kecerdasan musical.
14) Peta akibat, metode ini dapat digunakan sebelum atau sesudah siswa-siswa mempelajari sesuatu topik. Hal itu dapat digunakan untuk menemukan seberapa tuntas siswa-siswa dalam memikirkan sesuatu isu atau peristiwa, atau dapat digunakan untuk menemukan apakah mereka sudah mampu menerapkan informasi yang sudah dipelajarinya dalam menganalisis situasi baru. Siswa-siswa diminta untuk mempertimbangkan semua hasil atau akibat yang mungkin dari suatu tindakan atau perubahan dan kemudian hasil-hasil dan akibat-akibat sesudah itu. Mereka juga didorong untuk berpikir tentang akibat-akibat positif dan negatif. Cara ini juga dapat digunakan guru untuk melatih anak anak dalam mengembangkan kecerdasan linguistic.
15) Keuntungan dan kerugian, suatu tugas analisis yang kurang rumit dapat melibatkan siswa-siswa untuk memeriksa informasi yang mereka temukan tentang keputusan, sikap atau tindakan yang kotroversial (menjadi sengketa). Siswa-siswa bekerja sebagai satu kelas keseluruhan atau dalam kelompok-kelompok untuk menggolong-golongkan informasi yang mereka kumpulkan apakah untung atau rugi bagi mereka sendiri, keluarganya, desa atau masyarakat umumnya. Sesudah klasifikasi atas keuntungan dan kerugian sudah dirampungkan, siswa-siswa dapat diminta untuk memutuskan. Ini adalah salah satu cara guru untuk mengembangkan kecerdasan logical mathematical.
16) Permainan peranan/ konferensi meja bundar, strategi-strategi ini meliputi permainan peranan atau advokasi untuk kepentingan kelompok komunitas tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk membantu siswa-siswa mengenali bahwa biasanya terdapat suatu rentang sudut pandang mengenai sesuatu isu dan suatu rentang cara menafsirkan informasi tentang isu itu. Pandangan-pandangan ini biasanya ditentukan oleh pengalaman, harapan dan cita-cita, nilai pendidikan, gaya hidup dan peranan di dalam masyarakat dari orang yang mengungkapkan pandangan itu. Guru bertindak sebagai fasilitator (pemberi kemudahan), memastikan bahwa semua siswa diperkenankan mengemukakan pandangan sesuai peranan yang diterimanya, bahwa setiap diskusi berlangsung tertib dan mendorong peran serta yang jika perlu dengan mengajukan pertanyaan.Pada akhir konperensi meja bundar, siswa-siswa hendaklah didorong untuk memperhatikan semua sudut pandang dan tiba pada suatu keputusan pribadi tentang isu itu. Metode ini dapat dikembangkan untuk untuk meransang anak agar terlahit kecerdasan interpersonalnya dengan baik.
3.    Pengembangan Evaluasi Hasil Pembelajaran
1) Evaluasi dikembangkan dengan prinsip untuk memberikan informasi kemajuan belajar siswa dalam berbagai bidang intelligensi (kecerdasan jamak). Hal ini sudah harus tergambar sejak dalam perencanaan pembelajaran pengembangan kegiatan pembelajaran.
2) Bentuk evaluasi harus dikembangkan dengan berbagai macam yang dapat mengakomodir kecerdasan yang sangat kompleks, baik itu kecerdasan dalam lingusiti, logical mathematical, interpersonal dan lain sebagainya. bentuk tes soal ujian harus diiringi dengan tugas, jadi nilai praktek dan nilai sehari hari sangat besar perannya dalam penentuan keberhasilan belajar.
3) Proses penilaian benar benar berbasis kelas dan berangkat dari potensi apa yang dimiliki anak, kemudian kecerdasan apa yang tepat untuk dikembangkan pada dirinya. Artinya kompetensi yang ditetapkan oleh guru dalam tujuan pembelajaran juga harus diiringi dengan pertimbangangan lain dimana masing masing anak memiliki keunikan yang khas, sehingga pengukuran kecerdasannyapun membutuhkan ciri khas.

E.    Penutup

     Multiple intelligence kini telah banyak dikembangkan dari sejak kajian teoretis sampai pada berbagai praktek kegiatan pendidikan dan pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Kajian kajian tentang pengembangan kemampuan anak berdasarkan multiple intelligence ini diharapkan memberikan satu nuansa baru bagaimana sebenarnya hakikat manusia dari sisi potensi, bakat dan kemampuannya dapat dikembangkan secara optimal. Tentu kajian ini tidak berhenti sampai di sini saja. Lebih dari itu, masih terlalu dini untuk mengungkapkan bahwa multiple intelligence adalah yang terbaik dalam pengembangan kepribadian seorang anak.
     Namun yang pasti memberi kesempatan bagi guru dan peserta didik sejak awal, khususnya tentang multiple intelligence kiranya dapat memberikan satu motivasi yang kuat, bahwa kegiatan pendidikan dan pembelajaran perlu dikaji lebih jauh. Tulisan ini diharapkan menjadi nilai nilai inspirasi bagi upaya peningaktan kemauan dan kemampuan dalam memahami multile intelligence tersebut.

Selasa, 20 Mei 2014

Tips Bugar ala Anis Matta


img_4921copy
Stamina politisi bisa disebut di atas rata-rata orang kebanyakan. Aktivitas yang padat membutuhkan energi yang tidak sedikit. Begitu pula yang dialami Presiden PKS Anis Matta. Apa resep stamina Anis Matta?
Sejak ditunjuk sebagai Presiden PKS, Anis Matta langsung tancap gas. Ia habiskan waktunya bertemu kader-kader PKS di seluruh Indonesia. Ia mengaku sejak awal Februari hingga Juni ini sedikitnya 3/4 wilayah Indonesia telah ia kunjungi. “Yang belum itu di antaranya Papua. Insya Allah bulan puasa nanti,” ujar Anis ditemui di Jakarta, belum lama ini.
Ditanya soal aktivitas yang padat bagaimana ia menjaga stamina dan kesehatannya, Anis menyebutkan dirinya selalu minum air putih sepanjang hari. “Minimal saya minum air putih tiga liter,” sebut Anis.
Tidak hanya minum air putih, Anis juga secara rutin berolahraga untuk menjaga staminanya. Ia menyebut olahraga seperti gym, futsal, jogging dan renang menjadi pilihan olahraganya. “Dan tentunya saya mengkontrol makanan,” tambah bekas Wakil Ketua DPR RI ini.
Yang tak kalah penting resep menjaga kesehatannya, Anis menegaskan dirinya selalu gembira sepanjang hari. Alumnus LIPIA Jakarta ini mengatakan kegembiraan hati bisa diikhtiarkan dengan menjalani segala sesuatu dengan ikhlas. “Kalau niatnya mengejar karir, akan bermasalah,” seloroh Anis.
Untuk menjaga kegembiraan hati, Anis melanjutkan dirinya belakanagn tak lagi menonton televisi, membuka internet dan membaca koran. Namun buru-buru Anis menyebutkan bukan berarti dirinya tidak mengikuti perkembangan informasi. “Teman-teman selalu kasih up date isu,” kata Anis.
Ia menuturkan dirinya lebih banyak membaca buku. Bagi dirinya, dengan membaca buku maka akan dapat memiliki kedalaman dalam melihat suatu masalah. Lebih dari itu, Anis menyebutkan bagi politisi jika tidak membaca buku akan memiliki akumulasi masalah dalam jangka panjang. “Kalau saya baca buku tematik,” tandas Anis. [anismatta.wordpress.com]